Gabung Yuk

Sejarah dan Hak Paten Dangke, untuk Peternak Enrekang



Dangke menurut kisahnya sudah ada sejak zaman Belanda memerinah di Indonesia.  Seorang peernak membuat dangke dari susu kerbaunya.  Konon, suau hari seorang Peor Belanda bertemu peternak pembuat dangke, yang waktu itu belum menyebut keju sebagai dangke.  Terjadi komunikasi kemanusiaan anara peternak dengan sang Petor.  Sang peernak menghadiahkan keju kepada sang Petor, ang lalu menyebutkan kaa kurang lebih: dangk well yang artinya terima kasih.  Namun telinga peternak kata iu kedengaran seperti dangke.  Maka sang peternak memahami bahwa keju yang dibuatnya itu bernama dangke.  Nama iupun terbawa- bawa sampai masa kini.

Baca Selanjutnya...

Dangke (Keju), Masa Depan Peternak Enrekang


Meskipun relatif murah dari keju pabrikan, namun dangke cukup memberi keuntungan bagi kalangan peternak di Enrekang.  Memproses susu ternak menjadi dangke telah menjadi pilihan mayoritas peternak.  Dengan membuat dangke, nilai rupiah yang tiba di tangan mereka jauh lebih baik dibandingkan nilai yang diperoleh jika produknya dijual dalam bentuk susu cair.  Harga satu liter susu cair hanya berkisar Rp. 2.500, padahal bongkah dangke yang diolah dari 1,5 lier susu cair, kini laris dijual dengan harga Rp. 12.000.

Baca Selanjutnya...

Paradigma Dasar Wirausaha Kelinci


-Ikhtiar Memajukan Peternakan Kelinci Melalui Investasi dan Pemberdayaan

Sebelum masuk ke pembahasan tentang ternak kelinci, saya ingin mengajak kita memakai landasan berpikir lebih mendasar dalam hal ini. Mula-mula dalam melihat “ternak kelinci” kita mesti memakai dua kombinasi pemikiran, yakni abstrak dan praktis. Keduanya sangat penting. Sekalipun bidang usaha sangat didominasi oleh hal-hal yang pragmatis, tetapi untuk menguasai komponen pragmatisme itu mestilah menguasai abstraksi. Dengan paradigma yang baik, kita bisa melihat secara gamblang ragam kerumitan yang terjadi di dalamnya. Karena alasan inilah setiap kali saya ditanya bagaimana langkah awal budidaya kelinci mesti dijawab melalui pendekatan analisa umum, baru kemudian menukik ke masalah-masalah spesifik.

Baca Selanjutnya...

Ternak Unggulan Kab. Sinjai

Sapi Perah
Salah satu jenis ternak yang baru dikenal oleh masyarakat Ka-bupaten Sinjai adalah Jenis Sapi Perah. Sapi yang menghasilkan susu. Di mana daerah pengembangan sapi ini berada di kawasan Sinjai Barat. Sinjai Barat merupakan wilayah yang mempunyai iklim yang sejuk dan memungkinkan untuk jenis ternak tersebut dikembangkan.
Dalam pengembangan sapi ini dimulai tahun 2002 dan kini telah menjadi salah satu andalan kabupaten sinjai. Susu yang dihasilkan oleh sapi ini telah dinikmati oleh masyarakat Kabupaten Sinjai. Dan dalam pengembangannya akan dibangun pabrik pengolahan susu di kabupaten sinjai guna mendukung Gerbang Mas Peternakan Sulawesi Selatan.


Sapi  Potong
Pengemukan sapi yang merupakan metode yang dilakukan oleh para petani dengan bimbingan dari dinas peternakan.

Kambing Borwana

Jenis kambing ini merupakan hasil persilangan antara kambing boer (Boergoet) yang berasal dari australia dengan kambing perakanan Etawa(PE), kambing Burawa ini di harapkan dapat menggantikan jenis kambing local yang selama ini di kembangkan masyarakat.
Keunggulan pada kambing burawa adalah memiliki bobot badan lebih berat di bandingkan dengan kambing local. Sehingga Pemerintah Kabupaten Sinjai telah menggalakkan pengembangannya terutama untuk mendukung Gerbang EMAS bidang peternakan.
Jenis kambing burawa adalah jenis kambing unggulan dan merupakan kambing masa depan Sulawesi Selatan serta Kabupaten sinjai sebagai pusat pengembangannya Bruding Centre kambing Bur/Burawa di desa Bulu Tellu dan Kecamatan Bulupoddo Kab. Sinjai.

Sumber : http://www.sinjai.go.id  (Written by takdi)

Baca Selanjutnya...

Fakta Tentang Peternakan, Kaitannya Dengan Global Warming


Pada tahun 2006, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah memperkirakan bahwa pemeliharaan ternak untuk produksi daging dan susu bertanggung jawab terhadap 18% pemanasan global.

Hal tersebut membuat kenyataan semakin jelas bagi para ilmuwan bahwa industri peternakan ternyata memberi dampak yang sangat signifikan.

Dr. Rajendra Pachauri, kepala Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) berkomentar dalam sebuah pidato yang beliau berikan pada bulan September 2008 mengenai peran pengurangan konsumsi daging dalam menghadapi pemanasan global.


Dr. Rajendra Pachauri – Kepala Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa, VEGETARIAN (L): Sejak orang-orang mendengar hal yang saya sampaikan hari ini, saya telah menerima sejumlah email dari orang-orang yang menyatakan bahwa Saya setuju bahwa angka 18% adalah penaksiran yang terlalu rendah; tetapi pada kenyataannya dampaknya sebenarnya jauh lebih tinggi.

SUARA: Gas-gas rumah kaca diemisikan selama hampir setiap proses produksi daging. Dari tiga gas rumah kaca utama: karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, metana 72 kali lebih berpotensi daripada CO2, sementara dinitrogen oksida 300 kali lebih berpotensi daripada CO2.

Untuk menghitung pontesi dari gas metana, metode yang digunakan saat itu adalah dengan metode rata-rata selama periode 100 tahun. Tetapi pada kenyataannya, metana adalah gas yang eksis dalam waktu yang jauh lebih singkat. Oleh karena itu, para ilmuwan telah menyatakan bahwa lebih akurat jika potensi metana dihitung selama 20 tahun, sehingga hal ini menunjukkan bahwa metana sebagai sebuah gas rumah kaca mempunyai potensi pemanasan 72 kali lebih besar daripada CO2.

Ahli ilmu fisika AS, Noam Mohr dari Institut Politeknik Universitas New York menyatakan hal berikut dalam sebuah wawancara dengan Supreme Master Television.

Suara Noam Mohr – Ahli Ilmu Fisika, Institut Politeknik Universitas New York, Amerika Serikat, VEGETARIAN (L): Ketika diukur selama 100 tahun, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan bahwa peternakan hewan bertanggung jawab sebesar 18% terhadap emisi-emisi pemanasan global, dan itu merupakan jumlah yang sangat besar, jauh lebih banyak daripada emisi seluruh transportasi di dunia yang digabungkan.

Jika Anda melihat pada jangka waktu yang lebih pendek, metana mempunyai dampak yang sangat besar, dan oleh karena itu angkanya menjadi membesar. Jika kita menghitung dalam jangka waktu yang singkat maka angka yang sebenarnya akan jauh lebih tinggi.

Profesor Barry Brook (L): Jadi, jika Anda melihat pada laporan-laporan ini, mereka akan menyatakan bahwa metana memiliki dampak sekitar 25 kali CO2. Tetapi sungguh, ketika metana sudah berada di atas sana, di atmosfer dan bereaksi, ia akan mempunyai dampak 72 kali lebih besar dari CO2 dan itu mempunyai pengaruh yang sangat besar.

Dengan tingkat emisi metana global sebesar 37%, peternakan merupakan sumber tunggal terbesar dari metana yang ditimbulkan oleh manusia. Dr. Kirk Smith Profesor di Universitas Kalifornia – Berkeley, AS (L): Tentu kita harus menghadapi CO2, tetapi jika Anda ingin memperbaiki iklim dalam 20 tahun ke depan, kita harus berkonsentrasi pada gas-gas rumah kaca yang mempunyai umur yang lebih singkat, dan yang terpenting dalam hal ini adalah metana.

Jadi, dalam perkiraan emisi untuk 20 tahun ke depan, CO2 dalam emisi tahun ini hanya akan sekitar 40% dari jumlah pemanasan keseluruhan.

Sedangkan 60% lainnya atau lebih daripada itu berasal dari gas-gas yang berusia lebih pendek, terutama gas metana.

SUARA: Selain itu, menurut ahli ilmu fisika AS, Noam Mohr, peternakan memberi sumbangan emisi yang bahkan lebih besar jika kita memasukkan faktor lainnya yang belum terhitung: Aerosol, atau partikel-partikel yang dilepaskan bersama dengan CO2 dari pembakaran bahan bakar fosil, meskipun berbahaya terhadap aspek kesehatan, tetapi sesungguhnya memiliki efek pendingin.

Noam Mohr – Ahli Fisika dengan gelar yang ia peroleh dari Universitas Yale dan Universitas Pennsylvania, AS, VEGETARIAN (P): Saat kita mempertimbangkan aerosol dan efek netto dari pembakaran bahan bakar minyak, pengeluaran karbon dioksida memanasi planet sedangkan aerosol mendinginkan planet, jadi efek netto secara kasar menjadi impas.

Itu berarti sebagian besar dari efek pemanasan yang kita lihat dalam sejarah dan yang mungkin akan kita lihat di masa mendatang, berasal dari gas lainnya, yaitu gas metana.

Dr. Kirk R. Smith – Dosen, Universitas Kalifornia – Berkeley, AS (P): Peternakan telah menyumbang 20% dari semua emisi gas rumah kaca, tapi maafkan saya, sistem daging juga mencakup hewan ternak, penanaman panen untuk makanan hewan, transportasi untuk daging tersebut, dan pupuk untuk menumbuhkan panen untuk memberi makan ternak tersebut. Itu menambah gas metana lebih banyak daripada cara biasa yang dipergunakan.

Dr. Kirk R. Smith (P): Jika kita mengolah dengan lebih banyak lagi, maka 20% tersebut mungkin akan meningkat menjadi 30%. Jadi 30% dalam 20 tahun mendatang adalah akibat dari produksi daging.

SUARA: Dr. T. Collin Campbell, seorang peneliti yang terkenal dan pengarang buku terlaris internasional “The China Study”, juga menunjukkan bahwa dampak peternakan dalam memanasi planet jauh lebih besar.

Dr. T. Colin Campbell – Peneliti nutrisi yang terkenal, Universitas Cornell, AS, VEGAN (P): Saya baru saja mendapat informasi jumlah yang baru yang menunjukkan bahwa peternakan setidaknya menghasilkan setengah dari gas-gas rumah kaca yang ada sekarang ini, dan mungkin juga lebih dari itu. Jadi bukan 15% atau 20%.

SUARA: Kami berterima kasih kepada para ilmuwan karena telah menegaskan pentingnya pengurangan konsumsi daging untuk mengurangi emisi gas metana. Semoga setiap orang segera bergabung dengan solusi nabati yang berkelanjutan agar kita dapat mengerem pemanasan global secara efektif bagi semua penghuni Bumi.

Dalam konferensi video di bulan Juli 2008 dengan anggota Asosiasi di Thailand, Maha Guru Ching Hai mengungkapkan kenyataan tentang dampak kumulatif dari peternakan hewan terhadap pemanasan global.

Produksi daging menyebabkan 80% pemanasan global

Maha Guru Ching Hai: Karena polusi peternakan juga meliputi berbagai hal: Transportasi, pemborosan air, penebangan hutan, pendinginan, pemeliharaan, perawatan medis bagi hewan dan manusia, dan sebagainya, itulah segala jenis polusi yang berasal dari produksi daging. Bukan hanya lahan yang mereka gunakan, bukan hanya gas metana dan gas dinitrogen oksida saja, itu semua adalah produk sampingan, tidak ada akhir dari daftar tersebut.

Kita tidak dapat tergantung pada teknologi hijau saja untuk menyelamatkan Bumi.

Karena penyebab terburuk dari hal itu berasal dari industri daging. Setiap orang mengetahuinya, semua ilmuwan telah melaporkannya kepada kita.

Sumber : www.yauhui.net

Baca Selanjutnya...

Recent Comment

100 Blog Indonesia Terbaik
Shvoong
PageRank
Photobucket

Ingin Berlangganan Posting Terbaru? Masukkan alamat email anda ke form dibawah ini:

Delivered by FeedBurner

Archives

Kolom Donatur

Panduan Ramadhan