Peternakan Ayam Tanpa Limbah, Seperti Apa?

Posted by Andi Wawang

Menarik sangat menarik kata ku, setelah membaca artikel dengan judul Peternakan Ayam Tanpa Limbah, Seperti Apa? dari online Poultry Indonesia.  Mengapa?  Sesuai data yang dikemukakan dalam artikel tersebut bahwa ayam petelur dan broiler di Indonesia yang masing-masing sekitar 85 juta ekor dan 917 ekor menghasilkan ekskreta feces dan urin sebanyak 63.964 ribu ton perhari.  Sementara ternak ruminansia seperti sapi potong, sapi perah, kerbau, kuda, kambing dan domba menghasilkan kotoran tidak kurang dari 53.53 juta ton per tahun.


Bisa dibayangkan bila limbah tersebut tidak mendapat pengelolaan dengan baik,  sudah sangat jelas akan berdampak negatif bagi kesehatan pengelola peternakan dan lingkungan sekitarnya. 

Dalam artikel tersebut menginformasikan tentang  pentingnya memberdayakan produk buangan tersebut untuk mendapatkan pundi-pundi pendapatan tambahan untuk peternak.  Hal tersebut telah dibuktikan oleh H. Masngut Imam Santoso dari Blitar Jawa Timur dan Rachman dari Medan Sumatera Utara  telah membuktikan hal tersebut. 

Kata Masngut dalam pemaparannya pada seminar tentang pengembangan peternakan tanpa limbah yang diselenggarakan Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian UNS Surakarta, Budaya menyinergikan usaha peternakan, tanaman pangan, perkebunan, dan perikanan yang diwariskan para nenek moyang ternyata masih merupakan solusi terbaik untuk mengatasi problem limbah peternakan. Ini merupakan sistem yang sangat efisien dan mempunyai banyak nilai tambah. “Kotoran ternak dapat untuk menyuburkan tanah dan dapat pula dijadikan pakan ikan” . “Beternak harus satu paket. Ada sapi potong, perah, ayam, lele, dan sawah. 

Saya telah membuktikannya lanjut pemilik Santoso Farm ini. Peternak layer asal Blitar ini kini setiap hari memproduksi 25 ton pupuk dari kotoran sapi dan ayam. “Kalau dalam satu bulan, satu hektar lahan butuh 5 ton pupuk maka kami dapat memperbaiki tanah 150 hektar per bulan,” tutur Ketua Koperasi Serba Usaha Rukun Santoso ini. 


Konsep budidaya peternakan Santoso Farm adalah mengubah limbah pertanian menjadi pakan ternak dan mengubah limbah peternakan menjadi sumber daya hara bagi tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, maupun perikanan guna mencapai keadaan zero waste dan peternakan ramah lingkungan. Peternakan ayam petelur dikelola secara terencana dan tertata sehingga menghasilkan keterpaduan dengan unit perikanan.



 “Kotoran ternak dan wadah telur bekas dijadikan media penumbuh ceremendhe (sejenis serangga) yang mampu menjadi pakan lele sehingga menghemat biaya pakan,” ungkapnya. Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak sapi potong dan perah, Santoso Farm membuat pabrik pakan sendiri dengan memanfaatkan limbah pertanian seperti jerami padi, pucuk tebu, tebon jagung, jerami kacang tanah dan sebagainya. “Selain kualitas konsentrat dapat konsisten, pabrik ini juga dapat  membuka lapangan kerja serta menciptakan efisiensi biaya pakan karena menggunakan formulasi pakan yang ideal,” sambungnya lagi.



Senada dengan Masngut, Presiden Direktur PT Mabar Feed Indonesia Rachman mengungkapkan bahwa pola pertanian terpadu merupakan konsep pertanian yang berorientasi masa depan, berwawasan lingkungan, bernilai sosial, efisien, dan memiliki produktifitas tinggi serta menghasilkan nilai ekonomi. Mabar berbasis pada industri perunggasan dengan  mengembangkan usaha di bidang pakan, breeding, usaha peternakan layer, budidaya udang windu dan pabrik pakan udang.



Perusahaan ini memanfaatkan ternak ayam yang mati selama budidaya sebagai pakan ikan, melakukan dekomposisi kotoran ternak menjadi pupuk organik dan menerapkan biological treatment pada usaha budidaya udang windu.



Pemberian ayam mati pada ikan melalui proses perebusan menyebabkan hilangnya sumber penyakit yang berasal dari bangkai dan memberikan pakan berkualitas bagi ikan. Sedangkan  pupuk organik telah menyumbangkan kesuburan tanah bagi para petani jeruk, markisa, dan sayuran di Brastagi, Medan.



 “Tak ayal bukan hanya perusahaan yang menikmati, tetapi masyarakat petani yang selama ini berkutat pada  sistem budidaya konvensional mampu diberdayakan sehingga alih teknologi demi efisiensi, efektifitas dan produksi tinggi dapat tercapai,” tutur Rachman. Sementara biological treatment merupakan konsep yang menjadikan lingkungan tambak sebagai awal kehidupan udang menentukan produktifitas serta kualitas udang yang dihasilkan.



Penggunaan kompos dan dominasi bakteri yang menguntungkan menjadikan tambak sebagai sebuah ekosistem yang mendukung terbentuknya pakan alami udang dan terjamin kesehatan tambak untuk kenyamanan pertumbuhan si bongkok bercapit itu.



Selain Masngut dan Rahman, hadir pula dalam acara itu Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan  Dr. Kusumo Diwyanto, Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta  Prof. Tri Yuwanta dan  Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Deptan  Ir Rismansyah Danasaputra. Seminar dipandu oleh Direktur PT Lembah Hijau Multifarm  Suharto, MS.

{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment

Saran,kritik, serta masukan anda untuk tulisan diatas sangat diperlukan. Agar kami dapat memberikan yang terbaik bagi pengunjung.

Terimakasih

Admin