Visi Al-Zaytun Bangun Peternakan Sapi Berskala Dunia

Posted by Andi Wawang

Memahami visi Al-Zaytun, dari petikan wawancara Haposan Tampubolon, Marjuka Situmorang, Wilson Edward, dan Amron Ritonga dari majalah Berita Indonesia dengan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang.

Al-Zaytun sudah memiliki pengalaman panjang memelihara sapi. Sesungguhnya apa yang hendak direncanakan ke depan dalam hitungan Repelita demi Repelita, supaya semua itu terukur?
Oh, ya itu semua terukur. Kalau tidak, mana ada keberanian. Itulah yang kami anggap berani, karena punya pengalaman. Kita belajarnya saja serius, punya sapi berpuluh-puluh dan beratus-ratus kepala, kandang pun dari besi. Itu baru belajar. Nanti skala komersial lebih dari itu kita persiapkan. Sudah ada waduk mengapit kandang. Lihat ke lapak sana hampir lima hektar didirikan kandang. Insya Allah bulan sepuluh akhir sudah berdiri semua kandang itu.

Dalam rencana Syaykh, apa saja produk sapi yang nanti akan keluar dari Al-Zaytun?
Semuanya harus ada. Yang masih baru diperah, diminum, yang sudah masuk pasteurisasi, dibungkus pakai pembungkus yang bagus. Kemudian ada yogurt, keju dan lain-lain.

Syaykh membagi tahapan pembangunan peternakan sapi terpadu berkelas dunia per lima tahunan. Berarti akan memakan waktu puluhan tahun?

Orang yang memelihara sapi di Eropa itu ribuan tahun. Kita baru merencanakan duapuluh lima tahun belum apa-apa. Ya, berabad-abad harus punya sapi yang bisa berdialog dengan sesama sapi seluruh dunia. Begitu datang, kamu dari mana, oh, saya dari Indramayu. Sampai di Kanada ditanya siapa di sana, oh, Al-Zaytun. Duapuluh lima tahun belum apa-apa untuk membangun peternakan Indonesia.

Satu contoh, Belanda membawa sapi ke India, Jawa, Sumatera, Selandia Baru itu dalam satu tahun yang sama, tahun 1800-an. Tatkala Belanda ada di sini, jaya itu sapi. Belanda pergi, merana sapi perah. Buktinya tidak naik-naik populasinya. Konon 300.000 kepala dari zaman saya kenal sapi perah. Sampai hari ini data Departemen Pertanian jumlahnya 300.000 kepala.

Belanda tahun 1818 mendatangkan sapi untuk minum. Yang dibawa ke Selandia Baru sekarang lebih banyak sapi daripada penduduknya. Di sini, karena dibawa Belanda sapinya juga dibenci. Itu watak bangsa yang harus diperbaiki. Mestinya kalau bangsa ini dari dulu mampu memelihara warisan, nggak seperti sekarang ini. Warisan Mojopahit dipelihara, warisan Belanda dipelihara, warisan Jepang dipelihara, warisan Pak Karno dipelihara, warisan Pak Harto dipelihara, warisan semua dipelihara sudah jaya.

Beda dengan negeri Cina. Dengan revolusi kebudayaan, manusia punya disiplin. Sesudah punya disiplin dimasukkan sistem ekonomi yang bagus. Sekarang menjadi bangsa yang tidak terkejar oleh siapa pun. Sebentar lagi sapi dari seluruh dunia harus diambil dari negeri Cina. Karena sekarang sudah masuk ke sana semua. Sama halnya dengan produk multi nasional. Sekarang kalau mencari, ya di Cina. Harga pun begitu, ada dua macam. Harga Cina dan harga kapitalis. Termasuk Indonesia harganya kapitalis, mahalnya setengah mati.

Berarti yang akan dibangun Al-Zaytun harus dipelihara dan dijadikan sebagai aset nasional?

Bukan aset nasional tapi aset kemanusiaan. Kita sudah multinasional, kok. Keliru kalau cuma nasional. Nanti bisa berkokok di dalam kandang saja. Bisa dipelihara oleh peternak nasional maupun internasional. Duapuluh lima tahun langkah pertama, langkah kedua duapuluh lima tahun lagi. Mungkin di langkah ketiga orang sudah akan bertanya, “Waduh, ke Indramayu sajalah kalau cari sapi.”

Riset tentang sapi masih tetap dikembangkan Al-Zaytun?
Sapi itu tidak berhenti. Sama dengan manusia. Maka ada laboratorium. Hari ini 15 liter (produksi susu sapi per hari) orang mengejar, oh saya mencari produk yang 15 liter. Kita tingkatkan 20, yang 15 dijual dulu. Ini ada 20, wah saya pengen. Jual, keluarkan yang 25. Wah, saya sudah punya yang 20, ini ada yang 25, saya beli. Jual yang 25, keluarkan yang 30. Itu kan perlu riset, perlu penelitian sampai nanti satu ratus liter bisa.

Adakah rencana Al-Zaytun bekerja sama dengan Ditjen Peternakan, Departemen Pertanian untuk mengembangkan peternakan sapi?
Sudah paling duluan kerjasamanya. Swasta yang paling akrab dengan Dirjen Peternakan itu Al-Zaytun. Embrio transfer yang paling sukses di Indonesia di Al-Zaytun. Kalau cari di Al-Zaytun yang model apa saja ada. Itulah kerjasama dengan Dirjen, sudah lama kerjasamanya.

Cuma kerjasama model begitu tidak akan bakal membangun Indonesia dari sisi peternakan. Penduduk Indonesia 250 juta jiwa, dikasih empan cuma satu juta liter. Yang lainnya impor. Kapan majunya? Dunia peternakan tidak selesai di simposium. Bangun peternakan, kemudian diminum susunya, dijual ke luar negeri bibit-bibit unggulnya supaya kita terkenal, ‘Indonesia punya bibit unggul’. Jangan Kanada saja. Pemerintah tugasnya bukan untuk membuat proyek begini. Ngasih support saja. Izin? Ayo, saya izinkan, tidak dipersulit. Mestinya kalau tidak minta izin, pemerintah yang mendorong. “Coba, kamu minta izin, saya kasih izin, ayo.” Begitu.

Ini, ngurus satu orang yang minta izin saja satu bulan belum keluar. Kapan majunya? Jadi, kalau kritik seperti ini bukan kami tidak kerjasama. Gandeng tangan terus. Simposium ikut, diskusi ikut, dengarkan ceramah mau. Memang peternakan itu bikin ceramah saja? Peternakan itu kandang, sapi, tenaga kerja, kemudian laoratorium, menyatu. Itu yang dikerjakan peternak-peternak sukses di luar negeri. Kalau yang namanya pemerintah, mestinya orang baru ngomong mau minta izin impor, pemerintah langsung mendorong cepat-cepat.

Eskalasi populasi ternak, bagaimana konsepnya?
Ya, bereskalasi 400 persen saja setiap lima tahun, pelan-pelan. Nanti dari impor 1.000 kepala menjadi 4.000 kepala, menjadi 20.000 kepala dan seterusnya. Kan asyik kalau begitu? Kalau kebanyakan, kirim keluar.

Menurut perhitungan dengan menjual “semen” (sperma) saja seekor sapi jantan bisa menghasilkan Rp 2 miliar dalam setahun? Kalau dihitung-hitung, memang begitulah ahlinya tukang hitung. Sekarang ada ‘semen’ nggak ada induk, jadi sediakan sapi ternak indukan. Dalam hal ‘semen’ kita berhasil, teori kita sudah ada semua. Kita belum puas dengan yang ada itu, ingin yang gagah, hasilnya banyak. Jadi produktivitas yang dicari dan kualitas.

Cuma mana sapi betinanya? Nah, kita siapkan sebanyak-banyaknya. Dan tentunya yang bagus. Nanti akselerasinya pakai embrio transfer. Kalau kita ingin memperbanyak betina, ambil embrio betina. Sama dengan dunia kedokteran manusia, itulah teknologi. Jadi hari ini sudah sangat menyenangkan untuk berternak. Teknologi ada, kemajuan dunia perbibitan ada.

Kita tambah populasi baru impor dulu seribu. Ke depan impor ‘semen’ impor embrio. Ke depannya lagi bikin embrio sendiri, ekspor. Dunia itu saling terkait.

Peternakan sapi merupakan bagian dari program pertanian terpadu Al-Zaytun. Syaykh bisa menjelaskan keterkaitannya dengan program lain?
Justru peternakan sapi itu merupakan hal kecil tapi yang sangat menentukan. Sebab dia mempunyai sisa daripada produknya. Satu, energi yang luar biasa. Satu kepala sapi bisa mengeluarkan energi setara 0,6 sampai satu liter minyak tanah sehari. Kalau dikonversi ke listrik 1.000 ekor sapi bisa menghasilkan penerangan 250.000 watt.

Itu dari biogas saja. Nanti dari limbah padatnya, sebentar lagi lahan ini tidak pakai pupuk dari pabrik. Lempar-lempar saja kotoran sapi. Perikanan juga begitu, sapi perlu tulang ikan dan ikan perlu tulang sapi. Kita tidak kasih tulang sapi untuk sapi, tidak boleh, nanti dia jadi kanibal. Kalau sudah kanibal bisa jadi sapi gila dan sebagainya. Maka sisa-sisa sapi seperti tulang-tulang, darah, dikasih ke ikan. Tulang-tulang ikan dikasih ke sapi. Tanaman-tanaman pertanian dikasih ke sapi. Limbah sapi dikasih pada tanaman pertanian.

Jadi menyatu, terpadu. Yang makan kita, asyik, bukan? Jadi sapi merupakan si kecil yang menentukan berdirinya tiang, seperti paku. Kalau nggak dipaku oleh peternakan nggak bisa berdiri, goyang terus. Paku atau ikat fungsinya begitu, jadi menentukan.

Mengapa Indonesia goyah terus, peternakannya lemah. Kan syarat otak cerdas itu minum susu. Susunya nggak diminum kenapa, karena nggak ada. Kenapa, karena jumlahnya sedikit. Mengapa, karena nggak diurus. Mengapa, karena nggak diperhatikan. Lebih suka ayam walaupun banyak flu burung, kan? Ayam nggak bisa diminum, sapi bisa diminum susunya dagingnya bisa dimakan.

Nanti sebentar lagi kulit. Mau sepatu model apa, ada di sini nanti. Wartawan yang kemana-mana suka pakai jaket kulit, dari sini nanti. Jangan dibikin kerupuk kulit saja. Gampang, beternak itu. Yang susah itu kalau nggak mau. Para nabi juga peternak, penggembala. Sampai sekarang siapa yang memimpin umat, kan, penggembala namanya.

Berarti Syaykh bisa juga kami sebut sebagai penggembala sapi?
Penggembala saja, begitu, jangan khusus sapi. Penggembala itu biasanya bisa berkomunikasi dengan semua yang digembalakan. Bukan hanya dengan ternak, dengan yang tidak dilihat pun bisa komuniasi. Jesus kan sering berkomunikasi dengan yang tidak dilihat oleh hawariin yang lainnya.

Artinya, pemimpin bangsa pun harus punya pola pikir seperti penggembala?
Ya. Tidak boleh seperti tukang paku. Nengok nonjol dikit, pletak. Itu tentara. Kalau tentara harus siap palu terus. Nonjol pletak, nonjol pletak. Soldier namanya yang begitu. Kalau pemimpin tidak. Gembala ya menyiapkan air, menjaga aman, begitu.

Jadi dibutuhkan pemimpin yang mempunyai visi jauh ke depan, yang tidak pendek berpikirnya?
Nggak, nggak pendek. Memang karena hitung-hitungannya seperti itu yang dianut. Oh, panjang-panjang kalau belum jadi. Tapi hitung-hitungannya begitu.

Hitung-hitungannya lima kali dua, sepuluh. Setelah itu nggak ada. Makanya untuk apa berbuat, begitu. Pintar-pintar mereka, cuma karena nggak mau berbuat saja. Oh, berbuat. Ya berbuat, cuma batasan waktu saja.
Sedangkan pemimpin tidak ada keterbatasan waktu. Itu politikus. Jadi pemimpin, nggak usah jadi politikus. Nggak usah di Jakarta juga bisa memimpin.

Jadi kalau pemimpin berjanji setinggi langit, pencapaiannya harusnya setinggi langit juga?
Bukan hanya setinggi langit, sampai sorga pencapaiannya. Wong sorga itu nggak setinggi langit. Jadi sampai ke sorga. Kadang-kadang nggak sampai ke langit, sudah sampai.

Janji yang setinggi-tingginya, setinggi langit, kadang-kadang nggak sampai setinggi langit sudah tercapai. Jadi sampai ke sorga, jangan setinggi langit. Jangan-jangan neraka di langit. Jadi sampai sorga. Sorga itu kesejahteraan.

Artinya, pemimpin tidak berani berbuat karena hitungannya hanya lima kali dua tahun?
Satu diantaranya. Itu yang politis. Kalau pemimpin, karena Anda juga pemimpin, berbuat saja, dimana pun. Kita berbuat di sini kan jauh dari mana-mana apalagi langit. Dari kampung saja jauh. Tapi kalau sudah berdiri peternakan, pabrikasi, prosesing susunya jadi, semuanya nanti bibit-bibit unggulnya sudah tampil, orang berduyun-duyun datang ke sini khususnya peternak yang ingin beternak. (BI 47)


{ 0 comments... read them below or add one }

Post a Comment

Saran,kritik, serta masukan anda untuk tulisan diatas sangat diperlukan. Agar kami dapat memberikan yang terbaik bagi pengunjung.

Terimakasih

Admin